Arsip Tag: Politik

Budhisme bisa dilihat oleh beberapa orang sebagai #agama yang muncul sok damai, tetapi sebenarnya #agama ini menyembunyikan kebencian dan kekerasan dalam sebuah lembaran jeruk. — Abdulrachman, seorang intelektual Islam, sebagaimana dikutip dalam #artikel Intelektual Timteng: Dalai Lama Harus Bicara Pembantaian Rohingya→.

Iklan

Tahun-tahun terakhir, dunia Islam dikejutkan dengan pergolakan-pergolakan yang terjadi hampir di seluruh negara-negara Timur Tengah. Tek terkecuali di negara Suriah. Negara yang dipimpin oleh Bashar Al Asaad dengan keji membantai umat Muslim di negara itu. Namun, belum tampak kepedulian umat Islam di dunia untuk menolong orang-orang Islam di sana. Beberapa anggota parlemen di sana, sebagaimana dapat dilihat di beberapa video, mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menghina Allah.

Siapa Mereka? [Puisi] 

Siapa mereka?
yang tak pernah puas dengan miliknya

Punya satu, ingin dua
Dapat dua, meminta tiga

Mereka
harapkan lebih dari yang ada

Gunakan segala cara
‘tuk meraih cita

Biarpun curang, asal terpandang
Biarpun kotor, asal tersohor
Biarpun dosa, asal bersahaja

Sebarkan daya muslihat
agar impian didapat

Menjilat supaya terangkat
Memfitnah supaya lebih mudah
Bersuara agar tak kentara

Balada Pantaiku [Puisi] 

Berjuta pasir putih lari girang
bergumul dengan mutiara di garis pantai
Terhempas sejuk angin laut

Kerdip kerlip ombak menghampiri
menawarkan madu banyu suci
Menerpa, pasir bergulir ke tepi

Nyiur berjajar menebar segar
tunduk merunduk untuk laut
Memanggil gelombang, berkata-kata

Dan…
Karang tipis habis terkikis
terhantam atis madu manis
Tak kokoh lagi, tak bergerigi

Dan…
Taman-taman di dasar dalam
terkoyak-koyak ranjau jalanan

Tak Seperti Tuanmu [Puisi] 

Anginmu berlari cepat
menyelinapi sela-sela terik
mesra mengusap kulit
Damai menembus dada
Kamu…
tak seperti tuanmu

Ibunda…
Gemercik airmu adem mengalir
menggenangi kulah jiwa
Bersama bayu berbaur silir
Namun, itu…
tak seperti tuanmu

Bunda…
Tanahmu terhampar luhur, subur
Sejauh pandangan mata yang kabur
Bahkan yang terkubur
Itu…
tak seperti tuanmu

Luas sawahmu anggun tergelar
Penuh gurat-gurat rahasia besar
Penuh lukisan palawija penawar lapar
Di kelilingi pohon kelapa pelepas dahaga
Dirimu…
Tak seperti tuanmu
Ibu

Tak Ada Indonesia, Tanpa Tanjung Datu dan Camar Wulan

Sebagai rakyat Indonesia, saya sangat terkejut dengan berita tentang pengklaiman wilayah “sengketa” oleh Malaysia, yaitu daerah Tanjung Batu dan Camar Wulan. Namun, di lain sisi saya tidak terkejut dengan kejadian ini karena tindakan seperti itu telah sering dilakukan oleh negeri itu. Tentu kita tidak akan pernah lupa dengan sengketa Sipadan dan Ligitan, Blok Ambalat, serta masalah TKI.

Andai presiden kita masih Ir. Soekarno, entah sudah jadi apa negera seberang itu. 😀

Prenjak Nitir [Puisi] 

Kita tak usah heran
melihat prenjak-prenjak hinggap di dahan
mengerumuni rumah kita sambil bernyanyian
Sebab, rumah kita di kelilingi hutan
nan asri, indah, penuh akan kekayaan

Kita pun tak perlu galau
mendengar kicau mereka yang sama merdu
melantunkan janji-janji indah untuk merayu
karena hanya itu yang mereka mampu,
mengikut nenek moyang yang juga penipu

Kesejahteraan, kemajuan, kepedulian, kesetaraan,
lapangan pekerjaan, pembangunan, pemerataan,
pro-rakyat, pembela kaum melarat
Begitulah nyanyian wajib ajaran nenek moyang
yang kini selalu mereka ulang-ulang

Ah, bukankah tak ada kicau yang tak merdu
dan tak ada janji tanpa harapkan simpati?

Bila kicauan itu datang dari depan atau kanan,
dari mereka yang taat aturan
dan baik dalam budi pekerti
Itulah kicauan pembawa bahagia

Dan kicauan yang datang dari kiri
dari mereka yang mementingkan diri sendiri
atau mereka yang senang nyelonong lewat belakang
Itulah ocehan pengantar malapetaka