Arsip Kategori: Puisi

Februari 1988 (Ibu)

Tuhan, kenapa tak banyak Kau kisahkan kepadaku tentang ibuku
Kenapa Kau sembunyikan kisah-kisah itu dariku
Kisah ia menjalani kehidupan
Ketika usiaku sudah 9 bulan dalam kandungan,
Februari 1988.

Benarkah Ibuku dalam payah berkepayahan
Menahan sakit gerakanku yang mulai berontak,
Ah, bukan berontak
Aku hanya ingin memberitahu:
“Aku, anakmu Ibu, ingin segera melihat senyummu
Ingin segera melihat keperkasaanmu
Ingin segera melihat kecantikanmu
Ya, aku ingin segera merasakan semua itu
Yang saat ini hanya dapat ku dengar lewat detak nadimu.”

“Aku pun ingin segera mengakhiri kepayahanmu
Sembilan bulan menemaniku.”
Tapi, benarkah aku telah menghilangkan kepayahan itu?
Atau aku malah menambahkan kepayahan baru bagimu?
Bahagiakah kau dengan diriku yang saat ini?
Banggakah engkau, Ibu?
Atau…
Atau, malah sebaliknya?

(… hasil coretan ba’da Shubuh, belum selesai dan belum diedit :D)

Iklan

Siapa Mereka? [Puisi] 

Siapa mereka?
yang tak pernah puas dengan miliknya

Punya satu, ingin dua
Dapat dua, meminta tiga

Mereka
harapkan lebih dari yang ada

Gunakan segala cara
‘tuk meraih cita

Biarpun curang, asal terpandang
Biarpun kotor, asal tersohor
Biarpun dosa, asal bersahaja

Sebarkan daya muslihat
agar impian didapat

Menjilat supaya terangkat
Memfitnah supaya lebih mudah
Bersuara agar tak kentara

Binatang Liar [Puisi] 

Binatang-binatang liar terlihat bosan
jalani hidup dalam hutan
Dipenuhi aturan
hukum rimba
hukum alam

Gelap
Pengap

Aumannya keras melawan
Mencoba tuk bebas
lepas dari segala batas

Runtuhkan panji besi
luapkan nafsu dan emosi
Merdeka tanpa kendali

Berbuat
tanpa pengikat

Berjalan
tanpa halangan

Pergi
sesuka hati

Dan melangkah
tak tentu arah

Mencari cahaya keemasan
masa fana

Hikmah dari yang Telah Musnah [Puisi] 

Tatkala sang bumi murka
dengan semburan airnya
Langit pun bergelora
Membenamkan semua

Berfikirlah!
Mengapa pada saudara Nuh as, ia terjadi?

Hitam sang Utusan
turun rentangkan tangan
Membawa amanat Tuhan
lenyapkan kemungkaran

Ingatlah!
Apa sebab ‘Aad mengalami?

Dengan dahsyat bumi menggempa
Dengan keras langit bersuara
menebar mayat
Wajah-wajah begitu hebat

Tahukah!
Mengapa Tsamud dan Madyan Ia murkai?

Saat bumi terbalik
secepat mata berkedip
Batu pun berjatuhan menemani
Menambah pedih derita di bumi

Begitulah orang Sadum dibalas illahi

Sebab apa semua terjadi?
Bilakah kita ‘kan ditimpai?

Di RumahMu, Aku Bersujud [Puisi] 

Kulekatkan keningku
pada
bumiMu

Bersyukur

Atas nikmatMu
dan rahmatMu
padaku

Aku masih bersujud
di rumahMu
Tidak seperti dulu

Kuhunjukkan permohonan
PadaMu
doa, kupanjatkan

MengingatMu
Dalam tangis haru
nan menderu, sendu

MemujiMu
MemujaMu

Di rumahMu
Aku bersujud

Mengenang
Menangisi rahmatMu yang hilang

Ya Allah
Ya Tuhan
BagiMu segala pujian

Di rumahMu
Aku terus bersujud

Mengharapkan kemurahan
serta belas kasihan
Pengganti tetes kesedihan

Di rumahMu
Aku bersujud

Menanti keadilan
Menuntut keadilan

Tuhan
Di rumahMu aku bahagia
Di rumahMu aku berduka
Di rumahMu aku bersujud

Deretan Kata 2011: Kumpulan Puisi [Ebook] 

Ebook Deretan Kata
Deretan Kata 2011: Kumpulan Puisi Pilihan
Deretan Kata 2011: Kumpulan Puisi Pilihan merupakan sebuah ebook himpunan puisi pilihan yang dipublikasikan dalam blog Deretan Kata hingga tahun 2011. Tak perlu panjang lebar, bagi yang ingin membaca puisi-puisi Deretan Kata secara offline, silakan unduh buku ini di Deretan Kata 2011: Kumpulan Puisi Pilihan

Jangan lupa untuk menyampaikan tanggapan Anda tentang buku ini. Terima kasih.

Mewabahnya Wabah [Puisi] 

Sampah-sampah
di taman indah
Mencemari selokan suci
Menumpahkan air tak terkendali
menebar bibit penyakit

Jentik-jentik mungil
Kepakkan sayap kecil

Wabah
Tumpah

Bintik-bintik di sekujur menggigil
terselimut siang yang labil

Kejang-kejang
Kaki dihentak-hentakkan

Tangan mengepal kencang
Menghantam, terus menghantam

Mulut memekik lantang
Yang sakit berteriak kesakitan
Yang panas berteriak kepanasan

Tetangga tertawa gembira
tak ia rasa

Balada Pantaiku [Puisi] 

Berjuta pasir putih lari girang
bergumul dengan mutiara di garis pantai
Terhempas sejuk angin laut

Kerdip kerlip ombak menghampiri
menawarkan madu banyu suci
Menerpa, pasir bergulir ke tepi

Nyiur berjajar menebar segar
tunduk merunduk untuk laut
Memanggil gelombang, berkata-kata

Dan…
Karang tipis habis terkikis
terhantam atis madu manis
Tak kokoh lagi, tak bergerigi

Dan…
Taman-taman di dasar dalam
terkoyak-koyak ranjau jalanan

Di Musim Penghujan [Puisi] 

Kawanku, hujan telah turun pagi ini
Padahal hari masih terlalu dini

Kawanku, siang hari hujan tercurah lagi
Padahal hujan pagi barulah usai

Kawanku, hujan belum juga berhenti
Kawanku, musim ini hujan turun sepanjang hari

Kawanku, lihatlah air melimpah ruah
Belum juga meresap ke dalam tanah

Kawanku, sungai pun menjadi keruh
Bergejolak gemuruh rusuh
Mengendap
Mengeras
Membatu
Sungai-sungai terus mendangkal
Tak mampu lagi menahan curahan hujan

Tunggulah bencana di tahun depan
Tunggulah bencana di musim depan
Tunggulah bencana di bulan depan
Tunggulah bencana di minggu depan
Tunggulah, Kawan!