Arsip Kategori: Cerpen

“Tak akan pernah terasa sakit bila cahaya masuk ke dalam diri manusia. Bahkan, cahaya itu akan menerangi hati dan membuat manusia menjadi lebih tenang dan damai.”

Itulah salah satu kutipan yang selalu saya ingat sesudah membaca cerpen yang berjudul Doa dalam Bening Bintang→.

Keris Sakti Ayah [Cerpen] 

Sabtu malam, aku tiba di Kebarongan, sebuah desa di bagian selatan wilayah Kabupaten Banyumas. Angin basah langsung menusuk tubuhku yang baru turun dari bus. Suasana sepi menandakan kesunyian telah lama menguasai malam. Memang, di tempat kelahiranku ini, gelap dan sunyi masih menjadi sahabat abadi. Bila gelap mulai naik ke permukaan, maka sunyi akan segera menghampiri. Suara binatang malam terdengar sangat dominan di antara kekosongan. Namun, sambutan alam seperti  ini yang selalu aku rindukan di setiap akhir perjalananku dari Purwokerto.

Aku serasa memasuki dunia baru, dunia yang benar-benar baru. Dunia yang menghilangkan segala penatku. Dunia yang memberiku kekuatan untuk menyusuri jalanan yang basah oleh sisa-sisa air hujan. Lapisan tipis air di permukaan jalan memantulkan sinar lampu bagai berlian. Rembulan yang hampir purnama diam-diam mengikuti langkahku dari balik pepohonan yang rimbun, sesekali cahayanya menyapa wajahku. Sejauh mata memandang, tatapanku terbentur pada gurat-gurat kedamaian yang tergambar jelas di setiap sudut desa.

Tak lama setelah melewati beberapa tikungan, sampailah aku di depan rumah yang sejak dari kejauhan tak luput dari perhatianku. Sepi tanpa suara. Lampu-lampu kecil di dua sudutnya bersinar redup kekuningan. Menambah suram suasana malam itu. Hanya nyala lampu di ruang tamu yang menandakan bahwa rumah itu berpenghuni. Maka kuberanikan mengucap salam,

Yakinkan Hati, Ia yang Melangkahkan Kaki [Cerpen] 

Hari itu, saya masih menjadi mahasiswa semester tujuh sebuah perguruan tinggi Islam di Yogyakarta, beberapa tahun yang lalu, saat mengikuti kuliah.

“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Sekarang kita masuk pada pokok bahasan baru, yakni tentang pernikahan atau yang dalam Islam sering disebut walimatul ‘urs.

Sementara para mahasiswa menyiapkan buku dan alat tulis, sang Dosen—Ustad Haqiqi, melanjutkan perkataannya.

“Sebelum sampai ke materi, ada pertanyaan yang ingin saya ajukan. Siapa di antara kalian yang sudah menikah?”

“Belum ada, Pak. Tapi, sebentar lagi ada,” celetuk seorang teman yang membuat suasana sedikit ramai. “Sudah sampai tahap khitbah,” sambung teman yang duduk di bagrisan belakang itu.

“Ssst… Jangan ditertawakan!” seru Ustad Haqiqi menaggapi beberapa mahasiswa yang tertawa.

“Siapa? Siapa?” lanjut beliau.

Kontan sebagian mahasiswa menunjuk ke arah saya dan sebagian tangan yang lain mengarah kepada Ghina yang duduk di sisi lain. Memang sudah bukan rahasia lagi bahwa saya telah melamar Ghina. Sekilas saya lihat senyum tipis di bibir Ghina. Saya mampu membaca perasaannya saat itu, sebab saya juga measakannya­—malu.