Pelabuhan Terakhir: Sebuah Kumpulan Cerita

Sumber: ekanadashofa.staff.uns.ac.id/ekas-book/

Judul: Pelabuhan Terakhir: Sebuah Kumpulan Cerita
Penulis: Agusniar Rizka Luthfia & Eka Nanda Shofa Alkhajar
Penerbit: Bukutujju (bukutujju.blogspot.com)
Tahun terbit: 2011 (cetakan 1)
Tebal: 132 halaman, 13,5×20,5 cm
ISBN: 978-979-1032-67-4
Kutipan: “Sejak semua orang pergi meninggalkan rumah. Rumah dalam artian bukan saja tempat untuk tinggal, tetapi sebuah identitas dan kehangatan hati. Tempat ini sekarang, sekadar bangunan dari semen yang dingin.”

***

Sebelum menuliskan panjang lebar mengenai Pelabuhan Terakhir, saya ingin menceritakan awal pertemuan saya dengan karya sastra ini. Beberapa bulan yang lalu, rumah kontrakan yang saya tempati digegerkan oleh penemuan sekumpulan buku baru di salah satu kamar. Si pemilik kamar mengira buku-buku tersebut kepunyaan saya karena saya yang paling antusias dalam bidang sastra dibandingkan penghuni-penghuni lain. Ia pun menanyakan perihal buku tersebut kepada saya. Merasa tak memiliki ditambah rasa penasaran, saya tinggalkan aktivitas saat itu untuk sejenak mengamati buku tersebut. Sekilas saya lihat sampul dan isinya. Saat itu, saya tidak tertarik untuk membacanya lebih lanjut karena ada rutinitas lain yang lebih penting. Barulah Minggu (15/01) kemarin ada kemauan untuk membaca buku tersebut hingga tuntas. Dan pada Senin (16/01) pagi, saya mengkhatam buku setebal 132 halaman itu.

Buku Pelabuhan Terakhir menghimpun kisah-kisah tentang warna-warni kehidupan. Tak heran jika cerita-cerita yang ada dikelompokkan ke dalam warna-warna: merah bata (menginjak bumi), kuning (kesadaran diri), merah (cinta), hitam (tersembunyi), dan biru (tak disangka). Di beberapa cerpen awal, saya temukan nilai-nilai agama yang kental. Sebuah pesan yang awalnya—saat melihat sampul dan judulnya—tidak saya bayangkan akan ada di dalam buku ini. Ya, saya mengira buku ini seratus persen tentang antara laki-laki dan perempuan. Namun menginjak cerpen-cerpen selanjutnya, semakin tampak wujud cinta itu. Semakin lama, cahaya cinta semakin terang menyinari setiap baris cerita. Tentunya dengan nuansa religi yang masih tetap kuat.

Sampailah saya pada cerpen Pelabuhan Terakhir, cerpen yang menjadi judul besar buku ini. Sebuah cerpen yang menggambarkan indahnya rumah tangga yang dibangun di atas cinta, saling pengertian, saling memaafkan, dan pemahaman agama yang benar. Selain cerpen tersebut, munculnya cerpen-cerpen yang alurnya tak dapat saya terka semakin mendorong saya untuk segera menuntaskan buku tersebut. Seperti cerpen Adzan Terakhir, Aku akan Menalak Istriku, dan Pelabuhan Terakhir. Pada Adzan Terakhir, awalnya saya mengira akan berakhir dengan kematian tokoh utama. Ternyata saya salah, kisah dengan tokoh utama seorang muslim yang ringan meninggalkan shalat ini diakhiri dengan janji si tokoh utama bahwa azan ‘Isya yang terakhir berkumandang jadi azan terakhir yang ia lewatkan tanpa mendirikan shalat.

Adanya cerpen bertema sosial, idealisme, dan membuat saya semakin tertarik dengan buku ini. Meskipun di beberapa tempat ada penulisan yang kurang sesuai dengan kaidah bahasa: susunan kalimat dan letak tanda baca, sehingga membuat saya harus mengulang beberapa kali untuk tetap mendapatkan benang merah, buku ini layak untuk dibaca bagi para pencinta sastra dan juga masyarakat umum.

Hal terakhir yang saya lakukan ketika selesai membaca sebuah buku adalah mencari tahu para . Ya, saya lebih suka membaca buku tanpa mengetahui pengarangnya lebih dulu. Di halaman terakhir buku Pelabuhan Terakhir ini, saya dapati biografi singkat kedua penulis. Melihat biografi mereka, pantas jika nilai-nilai sangat kental di setiap kisah yang mereka tulis. Di halaman terakhir ini pula, saya menemukan kertas kecil pembatas buku bertuliskan:

Terima Kasih Atas Kehadiran dan Doa Restu Bpk./Ibu/Sdr pada Resepsi Pernikahan Kami
Rizka & Eka

Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak. Amiin.. (Meskipun doa ini telat beberapa bulan…)

Diterbitkan oleh

Fikri

Seorang blogger yang juga pecinta bahasa, sastra, matematika dan pendidikan.

2 tanggapan untuk “Pelabuhan Terakhir: Sebuah Kumpulan Cerita”

Beri Tanggapan (Bisa gunakan akun Facebook atau Twitter)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s