Tahun Baru Masehi dan Hijriyah: Lebih Meriah Mana dan Mengapa?

Hari ini adalah hari pertama di tahun 2012. Beberapa jam yang lalu, masyarakat Indonesia merayakannya dengan sangat meriah. Di titik-titik pusat keramaian pesta penyambutan tahuan baru, berjuta rupiah dihabiskan untuk menghadirkan bunyi terompet dan petasan. Sementara beberapa masjid dan rumah mengadakan pengajian. Begitu meriahnya sambutan masyarakat atas datangnya tahun 2012. Semoga antusiasme tersebut tak hanya membara di semenit hingga sepuluh menit awal saja. Namun, akan tetap membara dalam kehidupan sehari-hari, dalam kerja dan aktivitas lainnya, selama satu tahun penuh. Amin…

Kejadian yang saya lihat seperti tergambar di atas mengingatkan saya akan tahun baru Hijriyah (1433H) yang jatuh pada tanggal 26 November 2011 atau 27 November 2011 kemarin. Tak ada hiruk-pikuk. Tak ada kemacetan. Tak ada pesta. Adem ayem. Tepatnya, tak ada yang istimewa.

Ada sebuah obrolan terkait sikap masyarakat dalam menyambut tahun baru Islam dan tahun baru Hijriyah tersebut. Berikut kutipannya:

“Ah, kenapa saat tahun baru Islam sebulan yang lalu, adem ayem saja, ya?” ucap seorang teman melontarkan pertanyaan kepada teman-temannya yang ada di ruangan.

“Sebab, kalender nasional kita memakai kalender masehi,” teman yang lain menjawab singkat.

“Tidak juga. Menurut saya ada sesuatu di balik semua itu. Ada konspirasi.”

“Oh, ya?” kata seorang teman penasaran.

Kata konspirasi sedikit membuat saya agak tertarik untuk ikut dalam percakapan tersebut.

“Konspirasi seperti apa?” tanya saya.

“Tahun baru masehi sebenarnya terkait dengan ritual agama. Dan para kaum kafir ingin agar umat Islam lebih peduli dengan tahun baru Masehi daripada tahun baru mereka sendiri yaitu tahun baru Hijriyah. Bahkan, mereka ingin agar umat Islam benar-benar melupakan hari tersebut,” lanjut orang itu.

“Masak, sih. Sedikit-sedikit konspirasi. Sedikit-sedikit ada tujuan untuk menjatuhkan Islam Apa benar seperti itu?”

“Saya juga bingung,” celetuk saya.

“Lebih memeriahkan tahun baru Masehi dikatakan salah. Memeriahkan tahun baru Hijriyah dibilang bid’ah. Harusnya seperti apa?” tukas seorang lagi.

Saya hanya nyengir mendengar kalimat tersebut.

“Menurut saya biarkan saja mereka merayakan tahun baru Masehi dan tidak merayakan tahun baru Hijriyah. Ada baiknya umat Islam tidak “mementingkan” tahun baru Hijriyah. Wong beda penetapan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha saja sudah ramai. Apalagi jika ditambah dengan perbedaan penetapan tahun baru Hijriyah? Apakah nggak bakalan lebih ramai?”

Apapun yang sebenarnya terjadi, semoga di setiap pergantian masa yang kita alami akan menjadikan kualitas hidup dan diri kita lebih baik lagi. Amin…

Diterbitkan oleh

Fikri

Seorang blogger yang juga pecinta bahasa, sastra, matematika dan pendidikan.

2 tanggapan untuk “Tahun Baru Masehi dan Hijriyah: Lebih Meriah Mana dan Mengapa?”

  1. Amin.
    Perayaan tahun baru masehi itu tidak disyariatkanm, jadi lebih baik tidak dirayakan. Jangan sampai kita tasyabuh (menyerupai) orang kafir, dalam hal ini adalah orang kafir yang merayakan tahun baru sebagai peribadatan. Tidak ada saling bantu-membantu dalam hal peribadatan bagi yang berbeda aqidah.

  2. saya suka denga kata-kata ini :
    ” Apapun yang sebenarnya terjadi, semoga di setiap pergantian masa yang kita alami akan menjadikan kualitas hidup dan diri kita lebih baik lagi. Amin…”………

Beri Tanggapan (Bisa gunakan akun Facebook atau Twitter)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s