Nusantara Bukan Gurun Sahara [Puisi] 

Nusantara Bukan Gurun Sahara→ merupakan puisi ungkapan ketidaksetujuan saya kepada sekelompok orang yang berpemahaman untuk menerapkan syariat Islam di Indonesia apa adanya, tanpa penafsiran ataupun tanpa melalui adaptasi yang dibenarkan.

Berikut saya kutipkan salah satu baitnya:

Kawan, sesekali, coba lepas gamismu
sesekali, coba tanggalkan burkamu
rasakan sejuk belaian bayu
rasakan damainya dalam hatimu
Cobalah!
Cobalah tangkap kedamaian Nusantaraku

Diterbitkan oleh

Fikri

Seorang blogger yang juga pecinta bahasa, sastra, matematika dan pendidikan.

12 tanggapan untuk “Nusantara Bukan Gurun Sahara [Puisi] 

  1. Hmmmm… kalo dibawa ke permukaan, masalah penerapan syariat islam dalam kenegaraan ini bisa banyak pro dan kontra. Bakal banyak kelompok bertikai. Masalah yg sensitif.😀

  2. Emank g bisa d paksa’n syariat Islam di pake di Indonesia….
    Pancasila masih paling cocok di negeri ini..
    Toh sari2 Islam udah ada di Pancasila = Ketauhidan, Humanisme, Ukhuwah, sama keadilan,,
    Dulu para Founding father kita bukan berbasis nasionalisme semua, masih ada musilm negarawan layaknya Ki Bagoes Hadikoesoemo (Tokoh Masyumi), H. Agus Salim (pendiri Partai Penyadar), Abikoesno Tjokrosoejoso (TokohPartai Syarikat Islam Indonesia), Abdul Kahar Moezakir (Pimpinan Muhammadiyah), K.H Abdul Wachid Hasjim (Tokoh NU), K.H Mas Mansoer (Tokoh Muhammadiyah), H. Ahmad Sanusi, K.H Abdul Halim, K.H Masjkoer, K.H Abdul Fatah Hasan. Sepuluh tokoh Muslim ini berperan penting dalam mematangkan perumusan Pancasila dan rancangan pembukaan UUD.
    Salam kenal ya…🙂

    1. Salam kenal juga… Dan terima kasih telah berkunjung.
      Saya juga berpikiran seperti itu, kalau kata anak-anak gaul sekarang, “Pancasila itu Islam banget”. Hii..hi…

    2. Assalamu’alaikum [ menyapa Saudaraku di petang ini ] …

      Fikri, Kami Dari Semua berkunjung untuk menikmati bacaan diruang ini hangat oleh keakraban🙂

      Komentarnya sama dengan yang saya tulis di Blognya Hada http://100mimpiku.wordpress.com

      Petang Ini, Hujan Membelaikan Kesejukan
      Bulir Jernih Nya Menerpa Debu Gersang Kelabu
      Tak Terhingga Waktu Sejak Panas Membalur Tubuh
      Yang Memaksa Kita Berdiri Saling Menjauh
      Petang Ini Dalam Sang Hujan, Kegelisahan Pun Lenyap Sirna

      Petang Ini, Dalam Hujan Yang Menyatukan
      Duduk Rapat Kami Bercengkrama Erat
      Beribu Beban Pergi, Berjuta Harap Datang Mengganti
      Ahh… Betapa Dalam Hujan Ini Mengalir Kesejukan Yang Hangat

      Sobat..,
      Semoga Ke Islaman Kita mampu menghadirkan Kesejukan yang Hangat
      – Tidak Panas membakar tak pula Dingin Membeku –

      Thanks untuk Sharing nya Fikri

Beri Tanggapan (Bisa gunakan akun Facebook atau Twitter)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s