Cassa 212-200 (Dari Balik Warung Burjo)

Siang ini, seperti biasa saya makan di warung burjo di dekat tempat saya—eh, maksud saya tempat teman saya karena saya numpang di tempat teman.

Saya : Mie Goreng Tante, Mang. (Saya memesan mie goreng tanpa telur)

Mang Burjo: Siap! (Kata andalan yang selalu ia keluarkan)

Melihat remote control di atas meja, saya tertarik untuk mengganti kanal televisi. Saya pilih kanal tentang berita yang hari-hari ini sedang hangat diperbincangkan, Cassa 212 yang jatuh di kawasan Bahorok, Sumatera Utara, sejak hari Kamis.

Artinya, sudah tiga hari kejadian ini, dan baru pada hari ini didapat kepastian akan nasib para penumpang. Semua penumpang meninggal dunia di tempat duduk masing-masing lengkap dengan sabuk pengaman yang terpasang.

Mang Burjo: Mati semua penumpangnya? (Dari dapur)
Saya : He-eh.

Mang Burjo: Telat sih evakuasinya. Tiga hari dibiarkan saja tanpa pertolongan pertama, penumpang yang luka-luka, patah tulang, keluar darah, pasti meninggal dan kehabisan darah.


Saya : Apalagi cuacanya ekstrim.

Mang Burjo: Sudah tahu keadaan cuacanya seperti itu, seharusnya membuat Tim SAR bergerak lebih cekatan. (Menyuguhkan mie goreng yang sudah matang)

Saya : Es teh. (Memesan minuman)

Mang Burjo: Saya bingung dengan pemerintah. Kalau urusan teroris cepat banget bertindak. Nggak peduli benar atau salah, main asal bunuh saja.

Saya: (Mesem)

Mang Burjo: Apa gunanya anggota-anggota TNI latihan di gunung-gunung dan memiliki pesawat yang canggih kalau tidak bisa menurunkan bantuan (pada hari pertama). Malah foto-foto doank, mengambil gambarnya saja.

Layar televisi menampilkan dialog yang salah satu isinya adalah mengenai keterbatasan dana yang menjadi alasan terkendalanya evakuasi.

Mang Burjo: Ini menyangkut nyawa, loh. Nggak seberapa, kan, biayanya? Pantas saja kemarin takut perang melawan Malaysia, pasti karena nggak ada dana.

Saya : Uangnya dikorupsi semua, mungkin.

Mang Burjo: Betul itu. Indonesia tidak hanya krisis keuangan, tapi juga krisi SDM. Sudah tidak ada orang bener di negeri ini. Bingung saya dengan pemerintah. Nggak habis pikir saja.

Percakapan siang itu pun berakhir ketika saya membayar makanan dan minuman yang saya pesan. Sepanjang perjalanan pulang saya berfikir, “Mungkin Indonesia perlu banyak orang yang lebih mau berkorban dan bertindak nekad untuk hal semacam ini agar pertolongan pertama dapat diberikan secepatnya.”

Diterbitkan oleh

Fikri

Seorang blogger yang juga pecinta bahasa, sastra, matematika dan pendidikan.

17 tanggapan untuk “Cassa 212-200 (Dari Balik Warung Burjo)”

    1. Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jualah kami kembali.

      Kita adalah miliknya dan kepada Allahlah amal kita kembali untuk dihisab😀

  1. kejelekan ABRI (TNI sekarang) pd masa lalu janganlah dijadikan patokan pd ms kini…….kt harus senantiasa berbaik sangka….klo mmg kondisi dan cuaca yang tdk mnguntngkan…..apakah hrs memaksakan diri…..TNI juga hanyalah manusia yg mmpunyai bnyk keterbatasan…..

  2. Prosedur, dana, birokrasi … Lebih sering tidak mau tau kondisi. Tapi kondisi yang harus mengikuti.
    Mending tidak ada yang cari kesempatan dalam kesempitan, cari untung dalam tragedi, dengan bertanya dulu: ada komisinya tidak?

    Parah negeri ini.

Beri Tanggapan (Bisa gunakan akun Facebook atau Twitter)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s