Salah Pilih Hari Raya Idul Fitri

Tulisan ini bukan untuk ikut-ikutan “merayakan” perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri 1432H. Sebagaimana kita semua ketahui, di Indonesia terdapat perbedaan dalam penetapan Hari Raya Idul Fitri pada tanggal 29 Agustus 2011 kemarin. Sebagian meyakini 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011, sedangkan sebagian lagi meyakini 1 Syawal bertepatan dengan tanggal 31 Agustus 2011.

Pada hari dilaksanakannya sidang Isbat, 29 Agustus 2011, seorang teman bertanya kepada saya, “Fik, mana yang benar antara umat yang lebaran besok dan lebaran lusa?”


Dengan nada yakin, saya menjawab, “Insya Allah, keduanya benar, kecuali umat yang ikut-ikutan negara lain—sebagaimana kita ketahui banyak umat yang berlebaran pada hari selasa dengan alasan Arab Saudi berlebaran pada hari tersebut, saya tidak tahu benar salahnya.”

Kemudian, saya lanjutkan kata-kata saya, “Hanya saja, di antara keduanya ada yang terbaik di hadapan Allah.”

“Lalu, manakah yang terbaik?” tanya teman saya.

“Wah, saya kurang tahu, coba nanti kamu perhatikan kapan munculnya purnama, maka hari itu berarti tanggal 15 Syawal. Nah, kamu bisa tahu mana yang benar dan yang salah,” jawab saya sekenanya—sungguh jawaban saya ini asal nyeplos😀.

Dan pada hari ini, 15 September 2011, saya baru dapat bertemu kembali dengan teman saya tersebut. Tiba-tiba dia berkata, “Fik, ternyata aku ikut lebaran yang salah.”

“Kok bisa,” jawab saya.

“Aku lakukan saranmu, aku mengamati kapan terjadi purnama. Dari situlah aku tahu bahwa lebaran yang saya pilih salah,” kata dia.

“Aku berdosa nggak, ya?” lanjutnya.

Saya hanya terdiam dan berkata dalam hati, “Makanya jadi orang nggak usah neko-neko dalam beragama. Jadi bingung sendiri, kan?”

Diterbitkan oleh

Fikri

Seorang blogger yang juga pecinta bahasa, sastra, matematika dan pendidikan.

13 tanggapan untuk “Salah Pilih Hari Raya Idul Fitri”

  1. kalau kata salah satu kerabat saya pas tanggal 30, yang lebaran hari ini dapet pahala yang puasa juga mendapat pahala. asalkan kita yakin dengan apa yang kita pilih, insya Allah semua tidak ada yang perlu dipermasalahkan.. bukankah perbedaan rahmat??

    1. Yup! Betul sekali. Semua dapat pahala, karena ada kaidah agama bahwa ijtihad yang salah mendapat satu pahala (pahala ijtihad), ijtihad yang benar mendapat dua pahala (pahala ijtihad dan pahala benar). Siapa yang tak mau mendapat dua pahala???

  2. Ikut ngasih komen dikit hehe…Yang jelas di dalam Al-Qur’an telah dijelaskan “Ati’ulloha wa ati’urrosula wa ulil amri minkum”, kita disuruh untuk mentaati Allah, taat Rosul dan “Ulil amri minkum” dalam hal ini adalah pemerintah, mengenai (purnama tgl 15) tidak bisa dijadikan sebagai tolak ukur untuk menentukan awal bulan syawal karena sudah ada metode tertentu dalam ilmu falaq untuk menentukannya dan kita pun tidak bisa melihat dengan jelas apakah bulan itu budar sekali (purnama) dengan mata telanjang tanpa ada penelitian secara ilmiah…Wallohu a’lam…

    1. Aduh! Sebenarnya saya malas ikut-ikutan ngomongin penetapan Ramadhan dan Idul Fitri. Akan tetapi, konon pada zaman Rasulullah, saat Rasulullah hendak menggenapkan Ramadhan menjadi 30 hari, ada SATU orang tak dikenal yang mengaku melihat hilal dan orang tersebut bersedia untuk disumpah—entah akhirnya disumpah atau tidak, maka Rasulullah langsung menetapkan Ramadhan menjadi 29 hari. Kemarin, seingat saya ada beberapa tempat di mana hilal telah terlihat, tapi pemerintah “mengabaikan” hal itu. Apa itu tidak salah?? Masak mau mengikuti pemerintah yang salah??
      NB: Maaf, tanggapan sebelumnya saya hapus karena isi tanggapan tersebut sekadar info ringan saja😀.

      1. saya tambahin mas fikri,kisah itu benar dan satu orang yg dimaksud juga sudah disumpah,tetapi ketika dirinci dan diamati lebih dalam lagi sidang itsbat yg kmren menteri agama sudah mengatakan bahwa laporan dari suatu tempat yg mengatakan melihat hilal itu sudah di analisis dan ternyata laporan itu bohong atau palsu,maka pemerintah pun mengambil inisiatif untuk menyempurnakan puasa itu atau biasa disebut istikmal…wallohu a’lam…

  3. Perbedaan itu adalah sebuah barokah..
    Kemarin, di desa saya malah pas tanggal 29 itu ada yang tarawih dan ada yang takbir. Selain itu, ada juga yang tidak melakukan keduanya, alias menunggu sidang di tv.. Aku juga akhirnya online saja.. Setelah setengah jam.. takbirnya berhenti.. dan akhirnya jam 8 baru mulai tarawih.. mungkin yang takbir itu diberi kabar untuk berhenti…

    Kemarin juga tanggal 30 jam 2 siang itu, bulan sudah terlihat.. dan sebenarnya sudah boleh buka.. tapi infonya telat.. bukanya tetap pas magrib..

    1. Di kampung saya, dari dulu juga seperti itu, ada satu kompleks yang selalu ikut Muhammadiyah dan ada satu kompleks yang ikut dengan pemerintah. Saya sendiri tidak masalah dengan ru’yah maupun hisab, selama keduanya tidak dibuat-buat untuk memenuhi ego masing-masing.😀

  4. Tak perlu salah2an mana yang benar mana yang salah. Asal kita punya keyakinan dan mantap ya ikuti saja. Lha wong yang tidak berpuasa selama sebulan penuh aja banyak, padahal mereka mengaku Islam tapi tak pernah disalahkan dan tak dipermasalahka. Yang jelas sudah puasa sebulan penuh kok disalahin hanya karena perbedaan hari raya.

    1. Betul itu. Nggak perlu menyalahkan orang lain. Akan tetapi, demi kebaikan diri sendiri (ingin dapat 2 pahala) boleh dong sedikit menelaah mana yang lebih???😀

Beri Tanggapan (Bisa gunakan akun Facebook atau Twitter)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s