Keris Sakti Ayah [Cerpen] 

Sabtu malam, aku tiba di Kebarongan, sebuah desa di bagian selatan wilayah Kabupaten Banyumas. Angin basah langsung menusuk tubuhku yang baru turun dari bus. Suasana sepi menandakan kesunyian telah lama menguasai malam. Memang, di tempat kelahiranku ini, gelap dan sunyi masih menjadi sahabat abadi. Bila gelap mulai naik ke permukaan, maka sunyi akan segera menghampiri. Suara binatang malam terdengar sangat dominan di antara kekosongan. Namun, sambutan alam seperti  ini yang selalu aku rindukan di setiap akhir perjalananku dari Purwokerto.

Aku serasa memasuki dunia baru, dunia yang benar-benar baru. Dunia yang menghilangkan segala penatku. Dunia yang memberiku kekuatan untuk menyusuri jalanan yang basah oleh sisa-sisa air hujan. Lapisan tipis air di permukaan jalan memantulkan sinar lampu bagai berlian. Rembulan yang hampir purnama diam-diam mengikuti langkahku dari balik pepohonan yang rimbun, sesekali cahayanya menyapa wajahku. Sejauh mata memandang, tatapanku terbentur pada gurat-gurat kedamaian yang tergambar jelas di setiap sudut desa.

Tak lama setelah melewati beberapa tikungan, sampailah aku di depan rumah yang sejak dari kejauhan tak luput dari perhatianku. Sepi tanpa suara. Lampu-lampu kecil di dua sudutnya bersinar redup kekuningan. Menambah suram suasana malam itu. Hanya nyala lampu di ruang tamu yang menandakan bahwa rumah itu berpenghuni. Maka kuberanikan mengucap salam,

Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumussalam warahmatullah,” terdengar pelan suara wanita dari dalam.

Suara alas kaki dengan langkah berat terdengar mengeras mendekati pintu. Bersama dengan terbukanya pintu di depanku, munculnya sesosok wanita dengan rambut acak-acakan seperti baru bangun tidur. Tanpa pikir panjang, segera aku gapai tangannya. Kugenggam dan kucium tangan Ibu.

“Masya Allah! Kamu, Nang?” lirih Ibu heran.

“Kaget melihat saya pulang? Bukankah saya sudah biasa pulang di awal bulan?”

“Masya Allah. Ibu benar-benar lupa. Ibu sudah malas untuk menghitung-hitung hari. Ibu tak tahu kalau sekarang sudah bulan baru,” katanya dengan anda ringan. Matanya mengikuti langkahku menuju kamar untuk meletakkan barang bawaan. “Pukul berapa kamu berangkat?” lanjutnya.

“Setengah delapan,” jawabku menghampirinya yang telah duduk di salah satu risban di ruang tamu.

“Sudah shalat ‘Isya?”

“Sudah. Sebelum berangkat, saya sempatkan shalat terlebih dahulu.”

“Makan?”

“Sudah,” jawabku pelan.

“Tidurlah dulu! Kamu terlihat kelelahan. Lagi pula, ayahmu sedang mengikuti rapat RT. Biasanya baru pulang pukul sebelas. Besok pagi, kita bisa ngobrol lagi.”

Aku pun beranjak ke kamar sambil melempar padangan ke seluruh ruangan. Wayang-wayang yang berjajar di salah satu dindingnya selalu membangkitkan ingatan akan kenangan-kenangan masa silam di rumah ini. Dulu, selain wayang kuno, di dinding itu terpasang pula keris kuno kebanggaan Ayah. Setiap pagi, Ayah membersihkan benda bersejarah yang telah jadi belahan jiwanya tersebut diiringi lantunan gending Jawa yang tidak henti-henti mengalun dari kedua bibirnya.

Ada ketakutan besar dalam diriku setiap kali melihat benda-benda kuno itu. Seakan-akan mereka benar-benar hidup seperti cerita banyak orang. Ya, hampir semua orang di desaku  mengatakan bahwa wayang dan keris milik Ayah adalah benda–benda keramat. Benda-benda yang memiliki kesaktian, bisa menghilang, terbang, dan bisa berbicara. Meskipun takut, aku tidak pernah menghindar jika Ayah memanggil diriku saat ia sedang melakukan “ritual pagi”, begitu Ayah sering menyebutnya. Ayah sering meminta diriku untuk duduk di atas pangkuannya. Ia mendekap diriku erat, seolah hendak mengurangi ketakutanku. Kemudian, Ayah mulai bercerita tentang segala hal yang berhubungan dengan wayang.

“Ini semua benda warisan leluhur. Kakek buyut menurunkan kepada kakek. Kakek menyerahkan kepada Ayah. Dan jika nanti Ayah mati, Ayah akan mewariskan kepadamu. Memintamu menjaga dan merawat benda-benda ini, seperti yang Ayah kerjakan. Namun, sebelum waktu itu tiba, banyak hal yang harus kaupelajari terlebih dulu.”

“Perhatikan delapan tokoh wayang ini. Mereka semua adalah dewa-dewa dalam dunia pewayangan. Dewa Indra—Ayah menunjuk ke arah salah satu wayang, Dewa Yama, Dewa Surya, Dewa Candra, Dewa Maruta, Dewa Bumi, Dewa Baruna dan Dewa Agni. Kedelapannya mempunyai sifat-sifat yang harus kau amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi, kamu seorang laki-laki yang nanti akan menjadi seorang pemimpin.”

“Delapan perbuatan itu harus kamu amalkan sejak sekarang supaya kelak semua itu menjadi kebiasaan yang mendarah daging. Pertama, laku hambeging indra, yaitu mengusahakan kemakmuran bagi orang-orang yang dipimpinnya, serta segala perbuatnnya harus ditujukan untuk kesejukan dan kewibawaan. Kedua, laku hambeging yama, yaitu menegakkan keadilan. Ketiga, laku hambeging surya yang mempunyai makna memberi semangat dan kekuatan serta mencontohkan kesabaran. Keempat, laku hambeging candra, seorang pemimpin harus mampu memberi penerang bagi orang-orang yang dipimpinnya yang berada di dalam kegelapan. Kelima, laku hambeging maruta yang memberikan kesegaran dan selalu melihat kebawah, mendengar rakyatnya. Keenam, laku hambeging bumi yang menjadi landasan pijak dan memberi kesejahteran bagi orang yang dipimpin. Dan selanjutnya adalah laku hambeging baruna dan laku hambeging agni, yaitu memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas seluas samudra serta bertindak tanpa pilih kasih seperti api.”

Di lain kesempatan, Ayah berkata,

“Dalam hidup ini, buatlah dirimu seperti Bawor. Ia bersikap blakasuta di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Ia jujur, terbuka, dan humoris. Di setiap ucapan, ia memakai logat Banyumasan tanpa merasa malu. Sementara wayang lain menggunakan bahasa Jawa alus. Ia sangat menjunjung tinggi adat daerahnya.”

Pagi-pagiku terasa sangat indah bila dihabiskan bersama Ayah. Wejangan demi wejangan yang terucap dari mulut Ayah selalu kusemaikan dalam hati supaya terus tumbuh. Pagi menjadi hangat kendati matahari belum tinggi.

Ketika aku beranjak besar, Ayah sering mengajakku ikut dalam rombongannya jika ia ndalang di tempat yang tidak jauh dari rumah. Ayah menugaskanku menjadi seorang peniti. Aku mengatur deretan wayang dari besar ke kecil di bagian kanan dan kiri kelir. Bila pertunjukan berlangsung, aku duduk di belakang Ayah, menyiapkan tokoh-tokoh wayang yang akan dimainkan pada adegan selanjutnya.

Hari-hari pada masa itu terasa begitu berwarna, secantik warna-warna yang menghiasai wayang dan sekemilau emas yang terukir mistis di keris Ayah. Tidak ada masa-masa yang lebih menenteramkan hatiku dibandingkan masa-masa saat aku membantu Ayah merawat wayang dan keris warisan turun-temurun keluargaku pada setiap pagi diiringi burung perkutut manggung. Saat itulah aku percaya pada perkataan Ayah: “Tidak akan rugi bila kamu menjaga warisan budaya leluhur. Semakin dalam kepedulianmu terhadap warisan-warisan leluhur, semakin kuat pancaran kebahagiaan yang merasuk ke dalam hatimu. Maka, jadilah kamu penjaga budaya leluhur. Tak harus wayang, bisa budaya-budaya yang lain, seperti: tari, alat musik, dan sebagainya. Lestarikan semua itu. Lalu, perhatikan dengan hati bijak kebajikan-kebajikan apa saja yang akan datang menghampiri hidupmu.”

Namun, roda kehidupan masih terus berputar dan waktu demi waktu pun berlalu. Seperti kata Ayah, zaman akan mengubah peradaban dan peradaban akan mengubah zaman. Tibalah masa di mana wayang kulit tak lagi diminati banyak orang. Tawaran ndalang tidak lagi seramai dulu. Bahkan, Ayah dan rombongannya pernah tidak menggelar sekalipun pertunjukkan selama satu tahun.

Keadaan ini tak kunjung membaik, bahkan terasa semakin buruk. Ayah memutuskan menyibukkan diri menggarap sawah desa yang ia sewa. Pagi-pagi sebelum matahari tinggi, Ayah sudah mengayuh sepeda ke sawah. Meskipun begitu, di sela-sela kesibukannya, Ayah masih sempat merawat wayang dan keris peninggalan keluarga, meski tidak sesering dulu.

“Coba perhatikan, Nang,” kata Ayah di suatu pagi. Ia memiringkan kepala ke kanan dan ke kiri. Memandangi wayang dan keris dengan sangat asyik. “Setiap kali menatap benda-benda ini, semakin bertambah rasa sayang Ayah. Apa pun yang terjadi pada diri Ayah, Ayah tak akan membiarkan warisan keluarga ini berpindah ke tangan orang lain. Ini warisan turun-temurun yang tidak akan Ayah jual,” lanjut Ayah penuh semangat.

Sayangnya, Ayah mengingkari ucapannya sendiri. Tidak lama setelah itu, Ayah terpaksa menjual benda-benda kesayangannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Diawali dengan menjual burung perkutut satu-satunya milik Ayah yang selalu membuka hari dengan suara merdunya.

Malam itu, tanpa Ayah dan Ibu sadari, aku mendengar perbincangan mereka di ruang tamu.

“Anak kita sudah hampir lulus SMP. Mungkin. Bila lulus nanti, bagaimana dengan pendidikannya? Apakah kita bisa menyekolahkannya ke SMA? Untuk menyekolahkan di SMP saja, kita untung-untungan…”

“Iya, Bu,” lirih Ayah memotong perkataan Ibu. “Ayah sudah terpikir akan hal itu sejak jauh hari. Setelah mempertimbangkan matang-matang, Ayah berniat menjual burung perkutut milik kita. Kemarin, Ayah sudah ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman. Di antara meraka ada yang berminat membelinya. Bagaimana, Bu? Apa Ibu setuju dengan niat Ayah?”

“Ibu menurut saja apa pun keputusan Ayah.”

“Syukurlah. Mudah-mudahan teman Ayah mau membelinya dengan harga tinggi.”

“Amin.”

Maka benarlah, burung perkutut satu-satunya kepunyaan Ayah yang sangat disayanginya dijual. Namun, tidak cukup di situ, ternyata sudah ada cobaan lain yang menunggu kami. Peristiwa ini terjadi tiga tahun kemudian.

Rebeng rebeng cinanda layan kaherin

Wis pinandak perlambange

Perlambang simungkumi

Dari dalam kamar, aku mendengar lantunan kakawen Sendon. Sekaran yang biasa dinyanyikan dalang untuk menggambarkan adegan kesedihan. Aku biarkan alunannya mengalir ke suluruh pembuluh darahku. Ayah sedang bersedih! Aku terperanjak. Sebab, selama ini aku tidak pernah melihat kesedihan di wajah Ayah maupun Ibu. Bahkan, dalam keadaan paling buruk pun, mereka akan menampakkan senyum. Kuatnya rasa penasaran menggerakkan tanganku untuk membuka pintu kamar pelan-pelan. Aku lihat Ayah sedang mengelus-elus keris kebanggannya. Wajahnya benar-benar mengguratkan rona kesedihan yang dalam. Apa yang terjadi? Apakah kerisnya tidak sakti lagi yang membuat hidup kami berubah seperti ini? Ada apa dengan Ayah? Ingin kutanyakan, tapi tidak berani. Aku melangkah ke dapur menemui Ibu hendak kutanyakan peristiwa yang terjadi, tapi tetap tidak berani.

Siang harinya sepulang sekolah, aku mendapati keris tersebut sudah tidak ada di antara wayang-wayang milik Ayah. Akan tetapi, sikap Ayah dan Ibu yang tidak mempermasalahkan hal itu membuatku takut bertanya. Apalagi, aku masih teringat peristiwa pada pagi hari. Aku takut pertanyaanku akan menyinggung perasaan Ayah.

Sejak saat itu, kebahagianku seakan-akan berkurang. Aku harus tinggal jauh dari Ibu dan Ayah, aku mengambil kuliah di salah satu perguruan tinggi di Purwokerto. Hatiku setiap pagi selalu terpikir Ayah dan Ibu, merindukan kebersamaan dan kebahagiaan seperti dulu.

Setahun kemudian, Ibu baru menceritakan kejadian sebenarnya pada malam itu. Menurut cerita Ibu, pada malam harinya, sebelum shalat tahajud, Ayah mengutarakan niat untuk menjual keris warisan keluarga yang selalu Ayah bangga-banggakan.

“Kenapa?” tanya Ibu tak percaya.

“Untuk biaya kuliah anak kita.”

“Kuliah? Apakah harus sampai perguruan tinggi?”

“Bu, zaman sekarang sangat jauh berbeda dengan zaman kita muda dulu. Kini, penguasaan ilmu pengetahuan menjadi modal yang penting untuk dapat mengarungi kehidupan. Apakah kita ingin anak kita tertatih-tatih menjalani kehidupan,” tukas Ayah.

“Bila itu kehendak Ayah. Apa daya ibu hendak mencegahnya.”

“Hidup ini selalu berupa pilihan. Bukankah Sri Rama harus memilih antara cinta dan tahta? Hanya saja, Ayah berharap pilihan yang kita ambil malam ini adalah keputusan terbaik untuk kita, sekarang dan mendatang.”

“Amin.”

“Orang tua dulu sering bilang, bila kita mendidik anak dengan baik, maka masa depan akan terjamin,” tegas Ayah.

Mendengar cerita Ibu, aku bulatkan tekad untuk mendapatkan kembali keris peninggalan keluarga yang telah lama hilang dari kehidupan kami.

***

Azan subuh membangunkan diriku di Minggu pagi. Langkah-langkah kaki terdengar ramai menapaki jalan sempit di samping rumahku. Seakan tak mau ketinggalan, aku pun melangkah cepat menuju sumur untuk berwudu. Aku melihat ibu tengah duduk di musala keluarga lengkap dengan mukenanya. Sementara Ayah, mungkin ia sudah berangkat ke masjid karena aku tidak melihatnya.

Jalan beton dengan lebar tidak lebih dari semeter tak banyak berubah. Kondisinya masih sama dengan jalan yang selalu membawaku ke masjid ketika aku kecil. Di tengah perjalanan, obrolan-obrolan ringan sesama jamaah sedikit mengurangi hawa dingin yang menusuk.

Seusai shalat, aku sempatkan ikut berbincang dengan teman-teman lama di serambi masjid. Saat terang mulai mengambang rendah di permukaan, aku putuskan untuk pulang. Setibanya di rumah, aku dapati Ayah tengah melakukan “ritual pagi”. Persis seperti dulu, semangatnya seakan-akan tak pernah pudar bila sedang berhadapan dengan wayang-wayang peninggalan keluarga.

Assalamu’alaikum.”

Wa’alaikumussalam,” balas Ayah. “Semalam tiba pukul berapa?” tanyanya.

“Sekitar pukul setengah sepuluh.”

“Bagaimana dengan kuliah dan kerjamu?”

Alhamdulillah, semua berjalan lancar.”

Ketika aku dan Ayah sedang bincang-bincang, Ibu datang dari dapur membawa mendoan yang digoreng dengan adonan terigu ditaburi irisan cabai.

“Ini makanan kesukaanmu, Nang.”

Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibu. Ibu duduk di sampingku.

“Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan kepada Ayah dan ibu,” kataku pelan. Aku beranjak ke kamar. Kuambil kantong kain hitam yang sudah kusiapkan dari semalam. Aku letakkan kantong itu di antara Ibu dan Ayah.

“Apa ini, Nang?” tanya Ibu.

Melihat aku yang tetap diam, Ayah mengambil kantong hitam itu. Semua mata tertuju pada kantong hitam yang mulai dibuka oleh Ayah.

“Masya Allah!” teriak Ayah dan Ibu hampir bersamaan.

“Masya Allah! Ini sungguhan, Nang?” tanya Ayah tak percaya melihat keris peninggalan keluarga berada dalam genggamannya lagi. “Apa Ayah bilang, Bu. Keris warisan leluhur pasti akan kembali ke rumah ini. Terbukti benar, kan?” kata Ayah sambil tertawa bahagia.

“Alhamdulillah. Tapi, bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Ibu kepadaku.

“Aku mendapatkannya dari Pak Dahlan, orang yang membeli keris itu dari Ayah. Aku membelinya kembali.”

“Uang dari mana?”

“Uang tabungan saya, Bu. Alhamdulillah, saya punya kelebihan uang sehingga bisa membeli keris itu.”

“Ayah juga bangga kepadamu. Mulai sekarang, kamu tidak perlu susah-susah mengurusi Ayah dan Ibu, uruslah diri dan masa depanmu. Insya Allah, bila sekadar memberi makan ibumu, Ayah masih sanggup. Apalagi dengan adanya keris ini.”

Kata-kata Ayah memecah tawa kami. Pagi yang indah dan hangat. Dan untuk kesekian kalinya, aku percaya bahwa menjaga warisan leluhur akan mendatangkan kebahagiaan.

Sore harinya, aku harus kembali ke Purwokerto. Diiringi rona ceria di wajah Ibu dan Ayah membuat kebahagiaanku semakin sempurna. Sesempurna warisan keluarga yang kini kembali utuh, delapan buah wayang dan satu keris. Kebersamaan yang tak lebih dari sehari, tapi sangat berkesan. Hari itu, aku semakin yakin bahwa keris tersebut benar-benar sakti. Keris itu mampu menghadirkan kembali cahaya kebahagiaan keluargaku yang hilang.

Aku sungguh bangga memiliki Ibu dan Ayah seperti mereka. Ibu yang selalu mendukung suaminya dalam keadaan suka maupun duka. Ayah yang dengan sekuat tenaga menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemimpin keluarga.

Jaga dan lestarikan budaya bangsa. Lalu, perhatikan dengan bijak kebajikan-kebajikan yang akan menghampiri.

Diterbitkan oleh

Fikri

Seorang blogger yang juga pecinta bahasa, sastra, matematika dan pendidikan.

9 tanggapan untuk “Keris Sakti Ayah [Cerpen] 

  1. Oke, bro… Maaf kalo OOT, tapi karena anda senang bermain dengan kode dan seni sastra, maka saya ingin bertanya; Apakah KODE itu PUISI?

    1. Salam kenal

      Code is Poetry. Begitu kata para pengembang WordPress. Wah, saya kurang tahu kode yang Sahabat Hatmao maksud. Bagi saya, puisi adalah ungkapan perasaan seseorang dalam bentuk yang tak biasa😀

    1. Wah, kayaknya di Banyumas nggak ada cobloko. Di sana, nggak pakai “o”, jadi tetap “cablaka” hee…hee… Kalau tempat-tempat lain saya sendiri tidak paham

Beri Tanggapan (Bisa gunakan akun Facebook atau Twitter)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s