Yakinkan Hati, Ia yang Melangkahkan Kaki [Cerpen] 

Hari itu, saya masih menjadi mahasiswa semester tujuh sebuah perguruan tinggi Islam di Yogyakarta, beberapa tahun yang lalu, saat mengikuti kuliah.

“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Sekarang kita masuk pada pokok bahasan baru, yakni tentang pernikahan atau yang dalam Islam sering disebut walimatul ‘urs.

Sementara para mahasiswa menyiapkan buku dan alat tulis, sang Dosen—Ustad Haqiqi, melanjutkan perkataannya.

“Sebelum sampai ke materi, ada pertanyaan yang ingin saya ajukan. Siapa di antara kalian yang sudah menikah?”

“Belum ada, Pak. Tapi, sebentar lagi ada,” celetuk seorang teman yang membuat suasana sedikit ramai. “Sudah sampai tahap khitbah,” sambung teman yang duduk di bagrisan belakang itu.

“Ssst… Jangan ditertawakan!” seru Ustad Haqiqi menaggapi beberapa mahasiswa yang tertawa.

“Siapa? Siapa?” lanjut beliau.

Kontan sebagian mahasiswa menunjuk ke arah saya dan sebagian tangan yang lain mengarah kepada Ghina yang duduk di sisi lain. Memang sudah bukan rahasia lagi bahwa saya telah melamar Ghina. Sekilas saya lihat senyum tipis di bibir Ghina. Saya mampu membaca perasaannya saat itu, sebab saya juga measakannya­—malu.

“Apa benar yang dikatakan teman-temanmu?”

Entah mengapa, menjawab pertanyaan itu seakan-akan menjadi sebuah keharusan bagi saya, tapi sulit mengatakannnya. Saya tatap wajah Ghina, mencoba mencari tanda persetujuan darinya. Namun, ia tak memandang saya sedikitpun. Hanya saja, ketenangan raut mukanya menandakan ia tidak merisaukan hal itu. Apa yang perlu ditakutkan jika semua orang tahu bahwa kamu telah melamarku, kata-kata itu yang seakan-akan ingin ia katakan. Maka, saya beranikan menjawab.

“Kenapa? Malu?” tanya Ustad Haqiqi sebelum saya sempat bersuara.

“Errmmmm… Benar, Pak.”

“Lalu, sudah kamu beri jawaban?” tanya Ustad Haqiqi kepada Ghina.

“Sudah, Pak,” jawabnya tenang.

“Diterima?”

Saya lihat ia hanya menganggukan kepala, tapi pasti.

“Alhamdulillah,” ujar Ustad Haqiqi disusul tepuk tangan seisi ruangan.

“Tenang. Tenang,” sambung Ustad Haqiqi.

“Memang sebelum menikah sebaiknya didahului dengan ta’aruf dan khitbah. Nah, kebetulan materi awal kita adalah khitbah. Bagaimana jika kita menelaah proses khitbah kedua teman kita ini?”

“Setuju!!!” Kelas pun kembali ramai.

“Bagaimana, Mualim?” Tanya Ustad Haqiqi setelah suasana sedikit tenang.

Kembali, saya tidak bisa begitu saja menjawab­—entah mengapa. Saya tatap kembali wajah Ghina, mencoba mendapat persetujuannya lagi. Kali ini, pandangan saya terbentur pada matanya yang bening yang sejak tadi memandang ke arah saya. Dan saya dapati keberanian itu.

“Insya Allah, banyak hikmah yang dapat diambil oleh teman-temanmu dan saya dari kisahmu, Lim,” ujar Ustad Haqiqi.

“Baik, Pak.”

“OK. Semua tenang. Kita akan mendengarkan cerita dari Mualim,” kata Ustad Haqiqi sembari menyeret sebuah kursi ke depan kelas dan mempersilakan saya duduk, “Silakan.”

Dari depan kelas, saya tatapi satu persatu raut wajah yang ada di sana, tak terkecuali Ghina. Seperti biasanya, ia begitu tenang—itu salah satu yang membuat saya terkagum-kagum kepadanya. Ia mengacungkan ibu jari tak jauh dari badannya, takut ketahuan yang lain—mungkin. Akan tetapi, saya dapat melihatnya dengan jelas, sebuah dukungan agar saya tidak perlu ragu menceritakan semuanya.

Kisah ini sungguh belum ada yang mengetahuinya kecuali saya, ayahnya Ghina, dan Allah tentunya. Kecuali bila ayahnya Ghina telah menceritakannya kepada orang lain. Kisah yang cukup menggelikan. Mengingatnya membuat saya senyum-senyum sendiri di depan kelas.

“Ada apa, Lim?” Tanya Ustad Haqiqi.

“Saya harus mulai dari mana, Pak?”

Setelah berfikir sebentar beliau membalasnya, “Saat kamu bertemu orang tua Ghina saja.”

Baru saja saya akan bercerita beliau menyela, “Begini saja, kamu ceritakan juga bagaimana kamu meyakinkan dan memberanikan dirimu untuk melamar Ghina. Sebab sulit untuk memperoleh keyakinan dan keberanian itu.”

“Baiklah. Hari itu, saya lupa tepatnya hari apa, sebenarnya saya tidak ada niat untuk melamar Ghina.”

Tiba-tiba kelas kembali ramai.

Putusin saja Ghi. Alim nggak serius sama kamu, tuh,” celoteh seorang teman.

Saya sempatkan memandang Ghina, hanya senyuman yang saya dapati. Selalu.

“Maaf. Maaf, bukan tidak ada niat, tapi saat itu saya belum yakin. Seperti yang dikatakan Pak Haqiqi, meyakinkan dan memberanikan diri bukan perkara yang gampang. Jujur, saat itu saya masih ragu untuk melangkah. Tapi, entah mengapa siang itu dengan bersepeda saya tetap pergi ke rumah Ghina. Padahal selain saya masih ragu, saya juga tidak tahu pasti alamat rumahnya.”

“Huuu…” ruang kelas kembali riuh.

“Siang itu, saya belum tiba di rumah Ghina, ternyata adzan Dhuhur telah berkumandang. Saya niatkan untuk shalat di masjid terdekat. Alhamdulillah, tidak terlalu lama saya tiba di sebuah masjid. Masjid an-Nuur Banguntapan. Syukur alhamdulillah, sudah tiba di desa tempat tinggal Ghina, saya berbisik lirih.”

“Segera saya menaruh sepeda di tempat parkir. Tanpa sengaja saya bertemu dengan Pak Ahmad, seorang pedagang siomay keliling yang tinggal di dekat tempat kos saya. Karena takut keburu iqomat, kami tak sempat berbincang panjang lebar, tapi sepakat untuk melanjutkannya sehabis shalat.”

“Rasa syukur atas kemudahan yang diberikan Allah dalam perjalanan ini membuat saya semakin khusyu’ menyambut panggilan-Nya serta menambah keyakinan dalam diri.”

***

“Kalau saya sampai ke sini itu wajar, Mas. Demi anak dan istri, saya kan memang harus mencari nafkah. Tapi, kalau Mas Alim sampai ke sini itu mengherankan. Jauh-jauh ke sini mau ngapain, sih Mas?” kata pak Ahmad membuka pembicaraan di serambi masjid.

“Ada urusan penting, Pak.”

“Urusan penting? Kalau boleh tahu, urusan apa, Mas?”

“Sebenarnya, bukan urusan penting juga.”

“Lho, Mas ini gimana? Tadi bilang penting, sekarang bilang nggak penting.”

“Begini, Pak. Saya ke sini untuk mengkhitbah seseorang.”

“Hah! Khitbah? Khutbah kali, Mas? Atau khitan?”

“Maksud saya melamar seorang gadis, Pak.”

“Oooo… Terus, kapan kawinannya?”

“Pak, Pak. Lamaran saja belum, Pak.”

“Lho?”

“Saya baru mau ke rumahnya. Karena sudah waktu shalat, saya mampir ke sini sekalian istirahat.”

“Ooo… Kalau begitu ndak usah lama-lama. Ndang ke rumahnya, Mas. Bisa-bisa keduluan ditembung orang lain.”

“Saya masih bingung, Pak.”

“Bingung?”

“Ragu.”

“Ragu? Takut, mungkin? Takut ditolak?”

“Ah, nggak tahu lah, Pak. Takut sih tidak.”

“Kalau urusan seperti itu, Mas Alim pasti lebih paham daripada saya. Saya tidak bisa membantu apa-apa. Tapi, tidak ada salahnya Mas Alim menemui Ustad Arifin, coba ceritakan masalah ini kepada beliau, mungkin beliau punya jalan keluarnya.”

“Ustad Arifin?”

“Ya, seperti namanya beliau sangat arif dan banyak ilmu yang dikuasainya. Beliau juga sangat ramah, dulu saat pertama bertemu dengan beliau saya merasa sudah kenal lama dengan beliau, ngobrolnya enak. Pokoknya, saya jamin Mas Alim tidak akan menyesal bertemu dengan Ustad Arifin. Kebetulan tadi saya melihat beliau menjadi imam shalat. Sebentar lagi beliau pasti keluar.”

“Ngomong-ngomong, gadis yang akan Mas lamar anak mana?”

“Setahu saya tinggalnya di desa ini, rumahnya mungkin sekitar sini, Pak.”

“Kebetulan, Mas bisa sekalian cari informasi bagaimana keadaan keluarga gadis itu lewat Ustad Arifin, beliau pasti kenal.”

“Amiin. Semoga saja, Pak.”

***

“Ustad Arifin, seperti yang dikatakan Pak Ahmad kepada saya, orangnya sangat ramah. Kami bertiga telah ngobrol cukup lama. Pak Ahmad meminta diri untuk melanjutkan berjualan. Kini, di serambi Masjid an-Nuur tinggal ada saya dan Ustad Arifin. Lalu,…”

“Lalu?” Tanya sang Dosen setelah beberapa saat lamanya mendapati saya hanya senyum-senyum sendiri di depan kelas.

Sementara itu, teman-teman pun tak dapat menahan tawa melihat tingkah saya. Sekali lagi, saya menatap Ghina. Lalu, memulai bercerita kembali.

***

Jam menunjukkan hampir pukul satu siang saat Pak Ahmad mengayuh sepeda meninggalkan area masjid.

“Tadi, Pak Ahmad bilang kamu mau mengkhitbah seorang gadis, tapi masih ragu. Dan setelah mendengar ceritamu sendiri saya makin memahami masalahmu. Apa sebenarnya yang mambuatmu bingung, Lim?” ujar Ustad Arifin.

“Apa yang harus saya perbuat di depan orang tua gadis itu, Ustad?”

“Kamu sudah sering bertamu ke rumah orang, kan? Ya, seperti itu lah.”

“Apa yang harus saya katakan?”

“Bilang saja, Pak, Bu, saya datang kemari ingin melamar putri Bapak dan Ibu yang bernama si Anu.  Itu sudah cukup. Kamu tinggal menunggu jawaban dari mereka.”

“Semudah dan sesederhana itu kah, Ustad?”

“Ya.”

“Apa mereka tidak akan bertanya yang macam-macam?”

“Maksudnya?”

“Tentang kehidupan saya, pekerjaan saya,…”

“Tentu mereka akan tanyakan hali itu,” sela Ustad Arifin. “Mana ada orang tua yang sudi menikahkan anak gadisnya dengan sembarang orang. Sebelum menikah, kamu harus menyiapkan segala-galanya, termasuk kesiapan menafkahi anak dan istri, member ketenangan dan kenyamanan. Bukankah kamu sudah menimbang-nimbang hal itu.”

“Insya Allah, saya sudah siap menghidupi keluarga yang saya pimpin dan memimpin rumah tangga yang saya bina.”

“Alhamdulillah.”

“Dengan kondisi saya sekarang, mencari pendamping hidup adalah sunnah bagi saya..Prinsip saya, tak perlu menunggu sampai pada tingkatan wajib untuk mengamalkan ibadah yang satu ini, Ustad.”

“Bagus, saya bangga ada pemuda seperti kamu.”

“Tapi, saya takut tidak bisa mengatakan apapun di depan orang tua gadis yang saya kagumi?”

“Masya Allah, Lim. Tinggal katakan saja seperti yang saya ajarkan tadi. Coba ulangi perkatan saya tadi.”

“Saya datang kemari ingin melamar putri Bapak dan Ibu.”

“Nah, itu bisa. Masih ada masalah lagi?”

“Begini, Ustad. Gadis yang saya kagumi ini tinggal di sekitar sini, mudah-mudahan Ustad kenal dan dapat memberikan informasi dan pendapat Ustad tentang kehidupan keluarganya.”

“Siapa namanya dan nama orang tuanya?”

“Namanya Ghina, tapi nama orang tuanya saya belum tahu, Ustad. Nama lengkapnya Ghina Lailatul Syamsyiah.”

“Kamu kenal Ghina di mana?”

“Dia teman satu kelas di kampus. Ustad kenal dengan Ghina?”

“Insya Allah.”

“Bagaimana menurut Ustad?”

“Setahu saya, dia dari keluarga yang baik, shalehah. Begitu juga dengan orang tuanya, insya Allah paham tentang agama.”

“Alhamdulillah. Ustad tahu rumahnya?”

“Ya, tentu. Tapi, apa kamu sudah yakin mau melamar putri saya?”

***

Suasana kelas kembali ramai, bahkan lebih riuh dari sebelumnya karena tidak ada yang tidak tertawa. Namun, aku tak tahu bagaiaman dengan Ghina. Saat itu benar-benar saya tidak sanggup dan tidak berani melihat ke arahnya sedikitpun.

“Tenang. Semuanya mohon tenang, biarkan Mualim menyelesaikan ceritanya,” ujar Dosen—dari nada suaranya saya yakin beliau menyembunyikan tawa di hatinya. “Silakan, Mualim.”

“Baiklah,” lanjut saya sembari menahan senyum—malu.

“Saat itu, masih di Masjid an-Nuur, saya mengucapkan kata-kata yang diajarkan oleh Ustad Arifin yang tidak lain adalah ayah Ghina, kali ini beliau benar-benar menjadi ayah Ghina. Alhamdulillah, saya dapat mengucapkannya dengan lancar, lebih meyakinkan, dan dari hati terdalam.”

Sorak-sorai dan tepuk tangan memenuhi seisi ruang kelas.

“Mohon teman-teman tenang sebentar,” pinta saya. “Dan tiga hari yang lalu saya baru mendapatkan jawaban itu dari Ghina secara langsung.”

Kelas semakin riuh dan gaduh mengakhiri cerita pengalaman saya yang menggelikan.

***

“Tak perlu ditahan-tahan, Fik,” ucap Ustadah Ghina melihat saya yang berusaha sekuat tenaga menahan tawa. “Malam-malam begini sudah tidak ada dokter yang buka praktek, kalau sampai sakit perut nanti bisa gawat.”

“He-eh, nggak perlu ditahan. Nanti kencing di celana lebih gawat lagi,” sambung Ustad Mualim di susul senyum istri tercintanya.

“Mudah-mudahan kamu bisa mengambil hikmah dari cerita ini. Minimal, kamu harus yakin bahwa jika kita telah berusaha sungguh-sungguh, Allah pasti akan memudahkan usaha kita itu, tidak hanya dalam urusan jodoh saja.”

“Amiin,” balasku.

Perbincangan malam itu berakhir saat jam menunjukkan pukul setengah sembilan lebih. Setelah pamitan, aku pun beranjak dari rumah Ustad Mualim. Menyusuri malam, kembali ke kontrakan tempat tinggalku, Omah Idjo, dengan sebuah harapan Dia akan memudahkan jalanku. Dan satu harapan lagi, semoga aku tidak akan mengalami peritiwa konyol seperti yang pernah dialami Ustad Mualim sebagaimana baru saja ia ceritakan, tidak tahu camer sendiri.

(TAMAT)

Omah Idjo, 2008

Diterbitkan oleh

Fikri

Seorang blogger yang juga pecinta bahasa, sastra, matematika dan pendidikan.

2 tanggapan untuk “Yakinkan Hati, Ia yang Melangkahkan Kaki [Cerpen] 

Beri Tanggapan (Bisa gunakan akun Facebook atau Twitter)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s