Kado Untukmu, Rasulullah

Maulid
Ilustrasi: http://muslim.or.id

Sebuah tulisan untuk menyambut kelahiran (maulud) Nabi Muhammad saw.

Petang yang disusul kumandangan adzan menandakan masa yang terus dan masih berjalan. Di bawah cahaya lampu kamar, aku masih larut dalam kesibukan. Potongan-potongan kertas berserakan di sekitarku. Gunting, lem, dan pulpen pun tergeletak berantakan. Tanganku membolak-balik dan memutar-mutar kotak kecil yang baru saja kubungkus dengan kertas kado begitu rapinya.

“Ah, ada yang kurang,” ujarku pelan.

Tanpa berfikir lama, aku bongkar kembali pembungkus kotak itu. Kubuka, terlihat jelas seluruh isinya.

“Tidak mungkin hanya ini yang akan kuhadiahkan untuk Nabi Muhammad.”

Namun, apalagi yang harus kuberikan? Sejurus kupandangi seisi kamar, tak ada satupun sesuatu yang istimewa. Hanya tumpukan kitab-kitab, eh bukan, hanya setumpuk buku yang tak pernah kubaca serta barang-barang tak berharga lainnya.

“Yaa Muhammad, Rasulullah! Alangkah sulitnya memikirkan kado yang pantas untukmu di hari ulang tahun kali ini.”

Pernah akan kusertakan kedalam kado itu foto masjid-masjid megah dan gambar kaum muslimin shalat berjama’ah, tapi aku tak yakin Nabi akan bangga melihatnya. Bahkan, aku takut kalau-kalau beliau malah berduka.

Betapa bodohnya aku ini, pikirku, kenapa tidak aku kabarkan saja suasana saat adzan-adzan menggema di seluruh angkasa di tiap-tiap waktu shalat, seperti yang baru saja terdengar. Betapa suara adzan saling bersahutan antara satu masjid dengan masjid lainnya yang berjarak beberapa meter saja. Segera kuambil secarik kertas dan sebuah pulpen, belum sempat aku menuliskan kata-kata, sesuatu, entah itu apa, menahan gerak tanganku. Ketakutan seketika menyelubungi hatiku. Takut kalau-kalau beliau akan marah saat membaca tulisan itu. Takut jika beliau sedih mendengar bagaimana umat Islam terpisah-pisah oleh banyaknya masjid-masjid.

“Kado apa yang Kau inginkan, Ya Rasulullah?!!”

Belum aku memikirkan keadaan kaum Muslimin yang lebih menyedihkan lagi, kualihkan pandangan pada kotak kecil yang sedari tadi kupegang. Kutatap lekat-lekat, masih kudapati hatiku tergolek di dalamnya dengan seuntai pita melingkarinya. Ah, apa pantasnya hatiku kuhadiahkan untuk beliau. Hati hina yang tak mungkin mengalirkan kata-kata syafa’at darinya kelak. Dengan sekuat tenaga, kulempar hingga keluar kamar dan tergeletak di tempat sampah. Aku tak peduli lagi.

“Maafkan aku, ya Rasulullah, aku tak jadi memberikan kado itu untukmu. Bukan aku tak cinta, bukan aku durhaka. Aku takut kau akan marah saat menerima kado itu, karena aku merayakan hari lahirmu dengan penuh meriah.”

“Shallu ‘alaik….. Salam ‘alaik…”

Omah Idjo, 25 Februari 2010

Diterbitkan oleh

Fikri

Seorang blogger yang juga pecinta bahasa, sastra, matematika dan pendidikan.

5 tanggapan untuk “Kado Untukmu, Rasulullah”

    1. Wa’alaikumussalam warahmatullah…
      Terima kasih telah berkunjung. Semoga perbaikan yang kita lakukan benar-benar berada di atas kebenaran. Amiin…

  1. Rasulullah pernah menangis saat Allah mengungkapkan bahwa sebagian besar kaum muslimin yang hidup menjelang akhir zaman akan dilemparkan ke dalam neraka.
    Kita tahu yang diinginkan Rasulullah. Ia ingin kita semua mencapai surga. Hanya itu kado yang ia inginkan.🙂

Beri Tanggapan (Bisa gunakan akun Facebook atau Twitter)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s