Perokok: Laki-laki Sejati atau Banci?

Matahari, siang itu masih seperti beberapa hari terakhir dan puluhan tahun yang lalu, meradang mengusir awan-awan putih hingga semua menghilang, tak ada lagi sisanya di atas sana. Dengan leluasa ia menebar panas yang sangat pada setiap jengkal tanah di bumi yang semakin kerontang, pada setiap ubun-ubun yang bersemangat dengan urusannya maupun yang santai memandangi dunia yang sejak dulu indah, pada diri-diri yang di luar maupun di dalam kesadarannya. Penjajak koran, pedangang asongan, pengamen, serta supir kernet dan penumpang tak lepas dari sengatannya yang mencurahkan genangan air di ujung-ujung jalan —fatamorgana.

Tak khayal keringat mulai mengucur dari lubang pori-pori. Diawali dengan munculnya titik-titik air di sekitar hidung. Lalu, dari pelipis meluncur ke kulit pipi. Meluas hingga leher pun basah kuyup. Dan jika telah sampai pada keadaan seperti itu, maka dapat dipastikan ketiak telah lembab, dua-duanya, serta telah menebar bau tak sedap beberapa meter dari asalnya.

Di saat seperti itu, besi padat pun tak mampu menahan terjangan matahari. Panasnya mampu menembus tebalnya besi atap bus dan membuat kondisi di dalam bus lebih parah dan panas. Meskipun tak ada seorang pun, baik penumpang, kernet maupun sopir bus yang menguji bahwa atap bus benar-benar terbuat dari besi, mereka yakin dan tahu bahwa itu besi. Dan —mungkin— karena keyakinannya itu tak ada satupun yang menghantamkan kepala ke atap untuk membuktikannya, atau agar atap itu berlubang sehingga suasana akan lebih baik. Apalagi jika setiap yang di sana sudah menganggap bahwa bau tak sedap yang semakin kuat terasa berasal dari orang di sebelahnya, dan berfikir bahwa orang itu lah yang harus bertanggung jawab membuat semua jadi lebih baik. Atau mungkin, karena di dalam diri semua orang di dalam bus telah tertanam anggapan bahwa keadaan seperti itu memang harus dialami. Jadi, tidak perlu melakukan apa-apa, nikmati saja semua yang ada. Beberapa di antara mereka, bisa juga sebagian besar atau malah semuanya, merasa belum lengkap jika perjalanan saat itu tidak mendapati suasana itu. Belum dikatakan naik bus ekonomi juga tidak merasakan semua itu, pikir mereka. Bahkan mungkin, mereka memilih bus ekonomi karena ingin merasakan kondisi semacam itu. Pilihan yang aneh!

Bus siap meninggalkan Pasar Gamping bila keadaan di dalam bus tak karuan lagi, bukan, tapi jika si sopir telah masuk dan duduk kembali di belakang kemudi. Kondisi yang menimpa penumpang tidak menjadi pertimbangan di mana pun, kapan pun dan dalam hal apa pun. Kembalinya sopir mrupakan saat-saat yang paling ditunggu, melupakan sekejap pada sengatan matahari siang itu.

Dan saat itu, penumpang semakin girang, terutama yang duduk di barisan belakang, karena naiknya seorang penumpang laki-laki. Bukan karena ikutnya penumpang itu dalam rombongan akan menambah sesak bus dan membuat sopir lekas menginjak pedal gas, tapi karena penumpang setengah baya itu membawa pelengkap kesempurnaan naik bus ekonomi. Apa itu? Asap rokok. Yah, asap rokok adalah teman yang selalu ada di setiap perjalanan menaiki bus ekonomi Jogja-Purwokerto.

Entah karena kemurahan hatinya, entah karena alasan lainnya, yang jelas penumpang itu menawarkan rokok kepada kernet bus.

“Rokok, Mas,” ujarnya santai —tanpa merasa berdosa, memang tidak berdosa, mungkin.

“Maaf, Mas. Saya tidak merokok.”

“Alah, masak. Lelaki kok nggak ngerokok?” kata-katanya selalu diiringi kepulan asap rokok dari mulutnya. “Lelaki yang nggak merokok namanya banci,” lanjut penumpang itu. “Bukan lelaki sejati, Mas.”

“Jangan salah, Mas,” timpal kernet dengan nada datar. Justru yang ngerokok itu yang lebih pantas dibilang banci.”

“Lho, kok bisa.”

“Ya bisa, Mas. Coba pikir selama ini jika bertemu dangan banci pasti sebagian besar seorang perokok, Mas. Sedangkan kalau laki-laki yang banyak yang tidak merokok. Iya nggak?” jelas kernet. “Jadi, perokok lah yang lebih mirip banci.”

Diterbitkan oleh

Fikri

Seorang blogger yang juga pecinta bahasa, sastra, matematika dan pendidikan.

9 tanggapan untuk “Perokok: Laki-laki Sejati atau Banci?”

  1. Fikri: postingannya slow, tapi mematikan, hehehe. Anti gerakan merokok, SEPAKAT!!!!

    @lostmyname: meskipun sering di kucilkan, anggap saja itu pantangan dan tantangan. Caranya simpel, jika lingkungan dan orang2 disekeliling tdk sepakat dengan tindakan yang telah diambil, saatnya ambil keputusan yg bijak.

    Pindah dari lingkungan yang menganggap tindakan kita tidak berarti dan sehat tersebut. saya kira temannya yang sering mengucilkan adalah teman yang ingin mengabadikan penyakitnya ,🙂

    salam…

    1. Kalau kita takut ikut-ikutan merokok, ya kita “tinggalkan” saja mereka. Akan tetapi, jika kita merasa mampu untuk mengubah gaya hidup mereka menjadi lebih sehat, mengapa tidak??😀

Beri Tanggapan (Bisa gunakan akun Facebook atau Twitter)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s